BAB VIII KESEHATAN PJOK KELAS XI TINGKAT SMA, SMK,MA

Memahami Pencegahan dan Penanggulangan Narkoba dan Psikotropika


A. Mengenal Narkoba dan Psikotropika

1. Narkotika

Narkotika adalah bahan/zat yang dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan/psikologi seseorang (pikiran, perasaan, dan perilaku) serta dapat menimbulkan ketergantungan secara fisik dan psikologi. Menurut UU RI No. 35/2009, narkotika adalah zat semisintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika terdiri atas tiga golongan, yaitu :

a. Golongan I

Narkotika yang hanya digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. 
Contoh : heroin, kokain, ganja. 

                                                 
                                  


                                   
b. Golongan II

Narkotika yang berhasiat untuk pengobatan, digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi atau untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. 
Contoh : Morfin dan Petidin

                                  
                                  

c. Golongan III

Narkotika yang berkhasiat untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. 
Contoh : Codein

                                   

2. Psikotropika

Menurut UU RI No. 35/2009, Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika terdiri dari empat golongan yaitu :

a. Golongan I

Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi, serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan. 
Contoh : Ekstasi

                                  

b. Golongan II

Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindrom ketergantungan. 
Contoh : Amphetamine

                           

c. Golongan III

Psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang mengakibatkan sindrom ketergantungan. 
Contoh : Phenobarbital. 

                            

d. Golongan IV
Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan sindrom ketergantungan. 
Contoh : Diazepam, Nitrazepam (BK, DUM). 

                               Diazepam

3. Zat Adiktif Lainnya

Zat adiktif lainnya adalah bahan/zat yang berpengaruh psikoaktif diluar Narkotika dan Psikotropika, meliputi : 

a. Minuman alkohol yang mengandung etanol etil alkohol, yang berpengaruh menekan susunan saraf pusat, dan sering menjadi bagian dari kehidupan manusia dalam kebudayaan tertentu. Jika digunakan bersamaan dengan narkotika atau psikotropika akan memperkuat pengaruh obat/zat itu dalam tubuh manusia. 
Ada tiga golongan minuman beralkohol, yaitu :
1) Golongan A dengan kadar etanol 1-5% (Bir) 
2) Golongan B dengan kadar etanol 5-20% (berbagai minuman anggur)
3) Golongan C dengan kadar etanol 20-45% (whisky, vodca, manson house, johny walker). 

b. Inhalasi (gas yang dihirup) dan solved (zat pelarut) mudah menguap berupa senyawa organik, yang terdapat pada berbagai barang keperluan rumah tangga, kantor dan sebagai pelumas mesin. Beberapa yang sering disalahgunakan adalah lem, tiner, penghapus cat kuku, dan bensin. 

c. Tembakau. Pemakaian tembakau yang mengandung nikotin sangat luas di masyarakat. Rokok dan alkohol sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan NAPZA. 

Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan dari NAPZA dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu :

1. Golongan Depresan ( Downer) 

Jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktivitas fungsional tubuh. Jenis ini membuat pemakainya menjadi tenang dan bahkan membuat tertidur dan tak sadarkan diri. 
Contohnya : opioda (morfin, heroin, codein), sedative (penenang), hiptonik (obat tidur) dan tranquilizer (anti cemas). 

2. Golongan Stimulan (Upper) 

Jenis NAPZA yang merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan kerja. Jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif, segar, dan bersemangat. 
Contoh : Amphetamine (sabu, ekstasi), kokain. 

3. Golongan Halusinogen

Jenis NAPZA yang dapat menimbulkan epek halusinasi yang bersifat merubah perasaan, pikiran, dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda, sehingga seluruh perasaan dapat terganggu. 
Contoh : kanabis (ganja) . 

B. Dampak Penyalahgunaan Narkoba dan Psikotropika

1. Dampak NAPZA pada tubuh manusia

a. Komplikasi medis karena digunakan dalam jumlah yang banyak dan cukup lama akan berdampak pada :

1. Otak dan susunan saraf pusat yang berakibat pada gangguan daya ingat, gangguan perhatian/konsentrasi, gangguan bertindak rasional, gangguan persepsi sehingga menimbulkan halusinasi gangguan motivasi sehingga malas sekolah atau bekerja, dan gangguan pengendalian diri sehingga sulit membedakan baik dan buruk. 

2. Saluran napas akan terjadi radang paru (bronchopneumia) dan pembengkakan paru (Edema Paru). 

3. Jantung, akan terjadi peradangan otot jantung, penyempitan pembuluh darah jantung. 

4. Hati, terjadi hepatitis B dan C yang menular melalui jarum suntik, hubungan seksual. 

5. Penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS. Para pengguna NAPZA dikenal dengan perilaku seks resiko tinggi, mereka mau melakukan hubungan seksual demi mendapatkan zat atau uang untuk membeli zat. Penyakit menular seksual yang terjadi adalah kencing nanah (gonorrhoe), raja singa (syphilis), dan lain-lain. Pengguna NAPZA juga menggunakan jarum suntik secara bersama-sama membuat angka penularan HIV/AIDS semakin meningkat. Penyakit HIV/AIDS menular melalui jarum suntik dan hubungan seksual, selain melalui transfusi darah dan penularan dari ibu ke janin. 

6. Kulit terdapat bekas suntikan bagi pengguna yang menggunakan jarum suntik sehingga mereka sering menggunakan baju lengan panjang. 

7. Sistem reproduksi sering terjadi kemandulan. 

8. Komplikasi pada kehamilan meliputi : ibu mengalami anemia, infeksi vagina, hepatitis, dan AIDS. Kandungan mengalami abortus, keracunan kehamilan, bayi lahir mati, dan janin mengalami pertumbuhan terhambat, prematur, berat bayi rendah. 

2. Dampak Sosial

a. Lingkungan Keluarga

1) Suasana nyaman dan tentram dalam keluarga terganggu karena sering terjadi pertengkaran dan mudah tersinggung. 
2) Orang tua resah karena barang berharga sering hilang
3) Perilaku menyimpang /asosial anak (berbohong, mencuri, tidak tertib, hidup bebas) dan menjadi aib leluarga. 
4) Putus sekolah atau menganggur karena dikeluarkan dari sekolah atau pekerjaan, sehingga merusak kehidupan keluarga, kesulitan keuangan. 
5) orang tua menjadi putus asa karena pengeluaran uang meningkat untuk biaya pengobatan dan rehabilitasi. 


b. Lingkungan Sekolah

1) Merusak disiplin dan motivasi belajar
2) Meningkatnya tindak kenakalan, bolos, tawuran pelajar. 
3) mempengaruhi peningkatan penyalahgunaan di antara sesama teman sebaya. 

c. Lingkungan Masyarakat

1) Tercipta pasar gelap antara pengedar dan bandar yang mencari pengguna mangsanya. 
2) pengedar atau bandar menggunakan perantara remaja atau siswa yang telah menjadi ketergantungan. 
3) meningkatnya kejahatan di masyarakat, seperti perampokan, pencurian dan pembunuhan yang membuat masyarakat menangkan menjadi resah. 
4) Meningkatnya kecelakaan. 


3. Gejala Perubahan sebagai dampak penyalahgunaan Napza

a. Perubahan fisik

1. Saat menggunakan NAPZA, pengguna jalan sempoyongan, bicara pelo (cadel), apatis (acuh tak acuh), mengantuk, dan agresif. 

2. Bila terjadi kelebihan dosis (Overdosis) terjadi sesak napas, denyut jantung dan nadi lambat, kulit terasa dingin, dan bahkan meninggal. 

3. Saat sedang ketagihan (sakau) terjadi mata merah, hidung berair, menguap terus, diare, rasa sakit seluruh tubuh, malas mandi, kejang, dan kesadaran menurun. 

4. Pengaruh jangka panjang akan berakibat pada penampilan tidak sehat, tidak peduli terhadap kesehatan dan kebersihan, gigi keropos, bekas suntikan pada lengan. 

b. Perubahan sikap dan perilaku

1. Prestasi di sekolah menurun, tidak mengerjakan tugas sekolah, sering bolos, pemalas, dan kurang bertanggung jawab. 

2. Pola tidur berubah, begadang, sulit dibangunkan pagi hari, dan mengantuk di kelas atau di tempat kerja. 

3. Sering bepergian sampai larut malam, terkadang tidak pulang tanpa ijin. 

4. Sering mengurung diri, Bersama-sama di kamar mandi, dan menghindar bertemu dengan anggota keluarga yang lain. 

5. Sering mendapat telepon dan di datangi orang yang tidak dikenal oleh anggota keluarga yang lain. 

6. Sering berbohong, minta banyak uang dengan berbagai alasan tapi tidak jelas penggunaannya, mengambil dan menjual barang berharga milik sendiri atau keluarga, mencuri, terlibat kekerasan, dan sering berurusan dengan polisi. 

7. Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, pemarah, kasar, bermusuhan, mencurigakan, tertutup, dan penuh rahasia. 

C. Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba dan Psikotropika

1. Pencegahan terhadap diri sendiri

a. Belajar untuk mengatakan tidak, baik kepada diri sendiri ataupun kepada orang lain yang mencoba menawarkan barang haram itu kepada kita. 

b. Tidak usah terpancing karena dibilang kuper (kurang pergaulan). Justru kebalikannya, pengguna Narkoba lah yang nantinya akan jadi kuper dan terkucil. 

c. Bergaullah dengan teman yang baik dan jauhi teman yang berperilaku buruk ( siapa temanmu hari ini akan menentukan siapa kita kelak). 

d. Jangan pernah coba-coba. Sekali mencoba narkoba, maka seur hidup akan sengsara. 

e. Pikirkanlah bahwa narkoba akan mengakibatkan penderitaan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. 

f. Isilah hari ini dengan kegiatan positif, seperti berolahraga, ikut kegiatan karang taruna, ekstrakulikuler dan sebagainya. 

g. Ingatlah selalu nasehat dan pesan-pesan orang tua untuk mengarahkan kita pada hal-hal yang positif. Nasehat dan pesan orang tua adalah cahaya yang menerangi kegelapan jalan kita. 

h. Mendekalah dan selalu berada di jalan Tuhan, karena hanya dengan mempertebal iman dan rajin sembahyang, kita akan terjauh dari segala keburukan, termasuk narkoba. 

2. Pencegahan terhadap keluarga
Pada lingkungan keluarga, pencegahan penyalahgunaan NAPZA dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a. Pengasuhan anak yang baik dengan penuh kasih sayang, penanaman disiplin yang baik, mengajarkan perbedaan baik dan buruk, mengembangkan kemandirian, memberi kebebasan bertanggungjawab,dan mengembangkan harga diri anak dengan menghargai jika berbuat baik atau mencapai prestasi tertentu. 

b. Ciptakan suasana yang hangat dan bersahabat sehingga membuat anak rindu untuk pulang ke rumah. 

c. Meluangkan waktu untuk kebersamaan. 

d. Orang tua menjadi contoh yang baik. Orang tua yang merokok akan menjadi contoh yang tidak baik bagi anak. 

e. Kembangkan komunikasi yang baik. Komunikasi dia arah, bersikap terbuka dan jujur, mendengarkan dan menghormati pendapat anak. 

f. Memperkuat kehidupan beragama. Yang diutamakan bukan hanya ritual keagamaan, melainkan memperkuat nilai moral yang terkandung dalam agama dan menerapakannya dalam kehidupan sehari-hari. 

g. Orang tua memahami masalah penyalahgunaan NAPZA agar dapat berdiskusi dengan anak. 

3. Pencegahan terhadap lingkungan

Pada lingkungan sekolah pencegahan penyalahgunaan NAPZA dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a. Upaya terhadap siswa

1. Memberikan pedidikan kepada siswa tentang bahaya dan akibat penyalahgunaan NAPZA. 

2. Melibatkan siswa dalam perencanaan, pencegahan, dan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA di sekolah. 

3. Membentuk citra diri yang positif dan mengembangkan keterampilan yang positif untuk tetap menghindari dari pemakaian NAPZA dan merokok. 

4. Menyediakan pilihan kegiatan yang bermakna bagi siswa (ekstrakurikuler). 

5. Meningkatkan kegiatan bimbingan konseling. Membantu siswa yg telah menyalahgunakan NAPZA untuk bisa menghentikannya. 

6. Penerapan kehidupan beragama dalam kegiatan sehari-hari. 

b. Upaya Mencegah Peredaran NAPZA di Sekolah

1. Razia dengan cara sidak
2. Melarang orang yang tidak berkepentingan untuk masuk lingkungan sekolah. 
3. Melarang siswa keluar sekolah pada jam pelajaran tanpa izin guru. 
4. Membina kerjasama yang baik dengan berbagai pihak. 
5. Meningkatkan pengawasan sejak anak itu datang sampai dengan pulang sekolah. 

c. Upaya Membina Lingkungan Sekolah

1. Menciptakan suasana lingkungan sekolah yang sehat dengan membina hubungan yang harmonis antara pendidik dan peserta didik. 
2. Mengupayakan kehadiran guru secara teratur di sekolah. 
3. Sikap keteladanan guru sangat penting. 
4. Meningkatkan pengawasan anak sejak masuk sampai pulang sekolah. 

Pada lingkungan masyarakat, pencegahan penyalahgunaan NAPZA dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

a. Menumbuhkan rasa kebersamaan di daerah tempat tinggal, sehingga masalah yang terjadi di lingkungan dapat diselesaikan secara bersama-sama. 

b. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang penyalahgunaan NAPZA sehingga masyarakat dapat menyadarinya. 

c. Memberikan penyuluhan tentang hukum yang berkaitan dengan NAPZA. 

d. Melibatkan semua unsur dalam masyarakat, dalam melaksanakan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA. 

D. Penanggulangan Penyalahgunaan Narkoba dan Psikotropika

Upaya penanggulangan penyalahgunaan Narkoba dapat dilakukan melalui beberapa cara berikut ini :

1. Preventif (Pencegahan) 

Preventif dilakukan untuk membentuk masyarakat yang mempunyai ketahanan dan kekebalan terhadap narkoba. Pencegahan adalah upaya awal sebelum penyalahgunaan NAPZA terjadi. Pencegahan dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti pembinaan dan pengawasan dalam keluarga, penyuluhan oleh pihak yang kompeten baik di sekolah dan masyarakat, pengajian oleh para ulama, pengawasan tempat-tempat hiburan malam oleh pihak keamanan, pengawasan distribusi obat-obatan ilegal dan melakukan tindakan-tindakan lain yang bertujuan untuk mengurangi ata meniadakan kesempatan terjadinya penyalahgunaan narkoba. 

2. Kuratif (Pengobatan) 

Kuratif bertujuan untuk penyembuhan para korban, baik secara medis maupun dengan media lain. Seperti tempat-tempat penyembuhan dan rehabilitasi pecandu narkoba yaitu pusat rehabilitasi narkoba. 

3. Rehabilitasi (Rehabilitasi) 

Rehabilitatif dilakukan agar setelah pengobatan selesai para korban tidak kambuh kembali ketagihan narkoba. Rehabilitasi berupaya menyantuni dan memperlakukan secara wajar para korban narkoba agar dapat kembali ke masyarakat dalam keadaan sehat jasmani dan rohani. Kita tidak boleh mengasingkan para korban narkoba yang sudah sadar dan bertobat, supaya mereka tidak terjerumus kembali sebagai pecandu narkoba. 

4. Represif (Penindakan) 

Represif artinya menindak dan memberantas penyalahgunaan Narkoba melalui jalur hukum, yang dilakukan oleh para penegak hukum atau aparat keamanan yang dibantu oleh masyarakat. Kalau masyarakat mengetahui harus segera melaporkan kepada pihak yang berwajib dan tidak boleh main hakim sendiri... 

Alhamdulillah 🤲
Mudah-mudahan bermanfaat 🙏🙏🙏

Comments

Popular posts from this blog

BAB III KEBUGARAN JASMANI PJOK KELAS XI TINGKAT SMA, SMK, MA

BAB IV PENCAK SILAT PJOK KELAS XI TINGKAT SMA, SMK, MA

BAB I PERMAINAN BOLA BESAR PJOK KELAS XI TINGKAT SMA, SMK, MA SEMESTER GENAP